Sudah lama angkutan roda tiga (Bajaj) menjadi salah satu angkutan yang dibicarakan akan dihapus. Namun dengan adanya Perda No 4 thn 2014 angkutan lingkungan adalah sepeda motor roda tiga tanpa rumah, dipastikan bahwa angkutan itu tidak akan tergusur atau hilang. Masyarakat Jakarta sendiri memang menikmati dan masih membutuhkan angkutan itu di tengah hiruk pikuknya lalu lintas ibu kota.

Ketua Institute Transportasi Indonesia (Instran), Dharmaningtyas mengatakan bahwa dengan berdasar pada Perpu yang ada, dasar hukum angkutan roda tiga sangat kuat.

“Dengan demikian dasar hukum angkutan lingkungan atau angkutan roda tiga itu sangat kuat. Jadi tidak ada masalah apapun dengan ketentuan peraturan daerah yang ada,” ujarnya.

Dia berpendapat bahwa saat ini permintaan akan angkutan roda tiga sangat tinggi, terlihat dengan jumlah angkutan roda tiga saat ini masih sebanyak 14.000 unit. Bahkan, nilai setoran setiap harinya masih mencapai Rp 120.000,- sampai Rp 160.000,-.

“Karena angkutan ini dibutuhkan ibu-ibu ketika berbelanja kepasar, anak – anak sekolah, orang yang berpergian dalam jarak dekat dll,” kata Darmaningtyas pada diskusi publik bertajuk  “Menata Transportasi Jakarta Menelisik Peran Angkutan Lingkungan” Studi Kasus Angkutan Roda Tiga di Bangi Kopi Tiam, Pasar Minggu.

diskusi-angkutan-roda-tiga

Dia menyebut, jumlah orang yang memanfaatkan orang di Jakarta dari sekitarnya (Bodetabek) dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Jika pada tahun 2010 jumlah orang memanfaatkan angkutan menuju Jakarta masih 21,5 juta orang. Namun, pada tahun 2015 jumlah tersebut telah mencapai 47,5 juta orang.

“Dengan meningkatnya jumlah orang yang berlalu lintas di Jakarta maka kemacetan semakin parah. Sehingga kerugian ekonomis yang ditimbulkan semakin meningkat. Kerugian akibat pemanfaat BBM yang sia-sia mencapai Rp 42,5 triliun sedangkan kerugian kesehatan, waktu produktif yang percuma, dan pencemaran udara mencapai 15 triliun”, ujar Anton Chrisbianto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here