Ford Ranger Jadi Andalan di Asia Tenggara

IOTOMOTIF.com – Ford membuat Ranger terbaru dengan harapan mampu membuat truk yang mampu meninggalkan truk konvensional dengan kemampuan dan teknologi yang canggih. Hal ini menciptakan truk global pertama dengan dimensi kompak yang memenuhi kebutuhan pengguna.

Sumber tenaga berasal dari tiga pilihan Duratorq 3.2L diesel 5-silinder, Duratorq 2.2L diesel 4-silinder, dan mesin bensin Duratec 2.5L bensin. Semakin menarik, Ford Ranger terbaru hadir dengan banyaknya fitur canggih, seperti Lane Keeping Alert dan Lane Keeping Aid., Adaptive Cruise Control, Forward Alert, Front and Rear Park Assist, Tire Pressure Monitoring, Electronic Stability Program, Driver Impairment Monitor, Emergency Assistant dan Hill Launch Assist.

Matt Bradley yang menjabat sebagai Presiden Ford ASEAN, di Bangkok International Motor Show menegaskan bahwa pickup Ranger sangat sukses sebagai pelopor pick up canggih, diterima di sejumlah negara, khususnya ASEAN. Penjualan Ford di Asia Tenggara mencapai 100.000 unit per tahun dan 50 persen atau setengah disumbangkan oleh Ford Ranger.

“Di Thailand Ranger menjadi pemimpin di segmennya dalam setahun penuh sejak 2013. Di Vietnam, Filipina, dan sejumlah negara ASEAN lain sangat kuat. Di region lain juga laris, khususnya kawasan Asia Pasifik,” kata Bradley.

Brett Wheatley yang menjabat sebagai Vice President, Marketing, Sales and Service Ford Asia Pasifik mengatakan bahwa Ranger dibangun atas dasar tuntutan konsumen akan pikap yang juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan personal.

“Kami menjualnya di 180 negara di dunia dengan pusat produksi di tiga negara. Selain Thailand, ada Afrika Selatan dan Argentina. Model ini beda dengan F150 yang lebih ditujukan untuk konsumen Amerika Serikat dengan kebutuhan truk besar,” tutur Wheatley.

Bradley melanjutkan bahwa Ford Ranger terbaru akan mulai diproduksi pada fasilitas perakitan Ford Thailand di kuartal kedua 2015. Kapasitas produksi Ranger diperkirakan akan mencapai 50.000 unit untuk didistribusikan ke sejumlah negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri, pasar pikap telah menurun dari tahun ke tahun. Pasar saat ini hanya 1.000 unit per bulan, turun drastis dari 2013 yang mencapai 3.000 unit per bulan. Hal ini terjadi karena penurunan harga komoditas, menyebabkan penurunan pertambangan dan perkebunan segmen pasar utama pikap double cabin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here